Skip to content

Receiving Process

Proses Receiving (Penerimaan) adalah gerbang awal yang menentukan kualitas data dan kualitas fisik barang sebelum masuk ke siklus operasional gudang berikutnya.

Di Siloora WMS, Receiving difokuskan pada ketepatan verifikasi barang masuk, ketertiban dokumentasi, dan kesiapan unit untuk diserahterimakan ke proses penyimpanan lanjutan. Dengan disiplin pada tahap ini, risiko salah data dan salah perlakuan barang dapat ditekan sejak awal.

  1. Memastikan barang yang masuk tercatat benar sejak pertama kali diterima.
  2. Menjaga arus barang dari area bongkar ke area staging tetap terkendali.
  3. Meminimalkan selisih antara kondisi fisik dan catatan stok.
  4. Mempercepat waktu proses dari truk tiba sampai serah terima proses receiving selesai.
  5. Menjamin barang bermasalah tidak bercampur dengan stok siap jual.
  1. Tim operasional mendapatkan alur kerja yang jelas dari gate hingga penutupan receiving.
  2. Tim manajemen memperoleh visibilitas atas performa inbound secara real-time.
  3. Risiko stok tidak akurat, salah simpan, dan salah distribusi dapat ditekan.
  4. Proses audit internal menjadi lebih mudah karena jejak proses lebih rapi.

Siloora WMS membagi receiving ke dalam empat skenario utama agar tim gudang dapat menangani berbagai kondisi kedatangan barang tanpa kehilangan kontrol proses.

1. Penerimaan Tanpa Inbound Order atau ASN (Blind Receiving)

Section titled “1. Penerimaan Tanpa Inbound Order atau ASN (Blind Receiving)”

Skenario ini terjadi ketika barang tiba tanpa pemberitahuan sistem sebelumnya, atau ketika gudang belum memiliki data referensi dari sistem asal.

Karakter utama:

  1. Risiko ketidaksesuaian lebih tinggi dibanding skenario lain.
  2. Membutuhkan verifikasi manual lebih banyak di area staging.
  3. Waktu proses relatif lebih lama.

Alur ringkas:

  1. Truk tiba di fasilitas.
  2. Petugas memeriksa dokumen fisik yang dibawa transporter.
  3. Petugas membuat penerimaan secara manual di Siloora WMS.
  4. Barang diturunkan ke area staging inbound.
  5. Tim melakukan penghitungan fisik tanpa acuan kuantitas sistem.
  6. Label LPN dicetak dan ditempel pada unit fisik.
  7. Barang disiapkan untuk serah terima ke proses penyimpanan lanjutan.

2. Penerimaan dengan Inbound Order atau ASN (Expected Receiving)

Section titled “2. Penerimaan dengan Inbound Order atau ASN (Expected Receiving)”

Ini adalah skenario ideal karena data kedatangan sudah tersedia sebelum barang fisik tiba. Proses dapat berjalan cepat dan lebih akurat melalui verifikasi terarah.

Karakter utama:

  1. Kecepatan proses lebih tinggi.
  2. Akurasi penerimaan lebih baik.
  3. Validasi berbasis pemindaian lebih konsisten.

Alur ringkas:

  1. Data ASN atau inbound lebih dulu masuk ke Siloora.
  2. Truk tiba di dock dan dokumen divalidasi.
  3. Barang dibongkar ke area staging.
  4. Tim memindai unit barang atau pallet.
  5. Sistem mencocokkan jumlah fisik terhadap data yang diharapkan.
  6. Barang diputuskan diterima atau ditolak sesuai hasil verifikasi.
  7. Barang yang diterima disiapkan untuk serah terima proses berikutnya.

3. Warehouse Transfer (Penerimaan dari Gudang Lain)

Section titled “3. Warehouse Transfer (Penerimaan dari Gudang Lain)”

Skenario ini digunakan untuk perpindahan stok internal antar lokasi gudang dalam jaringan operasional yang sama.

Karakter utama:

  1. Barang umumnya sudah berlabel dari gudang asal.
  2. Verifikasi inbound cenderung lebih cepat.
  3. Fokus utama pada konfirmasi kesesuaian unit transfer.

Alur ringkas:

  1. Gudang asal mengirim barang sebagai transfer internal.
  2. Truk tiba di gudang tujuan.
  3. Dokumen transfer dipindai dan diverifikasi.
  4. Label unit kiriman dipindai satu per satu.
  5. Status barang diperbarui sebagai diterima di gudang tujuan.
  6. Barang diserahkan ke proses penyimpanan lanjutan sesuai prioritas operasional.

4. Finished Goods (Penerimaan dari Area Produksi)

Section titled “4. Finished Goods (Penerimaan dari Area Produksi)”

Skenario ini berlaku saat barang jadi dari area produksi diserahkan ke gudang penyimpanan untuk distribusi lanjutan.

Karakter utama:

  1. Terkait erat dengan proses penyelesaian produksi.
  2. Memerlukan disiplin kontrol mutu sebelum disimpan.
  3. Identitas batch dan masa berlaku harus terjaga pada label unit.

Alur ringkas:

  1. Produksi menyatakan barang selesai.
  2. Barang ditempatkan di area staging produksi.
  3. Tim receiving memverifikasi unit barang jadi.
  4. Status kualitas dikonfirmasi sesuai ketentuan operasional.
  5. Label LPN barang jadi dicetak dan ditempel.
  6. Barang siap diserahterimakan ke proses penyimpanan gudang jadi.

Bagian ini menjelaskan urutan proses standar yang dijalankan tim lapangan secara konsisten, terlepas dari skenario penerimaan yang digunakan.

  1. Truk datang dan didaftarkan di area gerbang fasilitas.
  2. Dokumen kedatangan diverifikasi oleh petugas terkait.
  3. Truk diarahkan ke dock door yang tersedia.

Fokus kontrol:

  1. Kendaraan dan dokumen tercatat dengan benar.
  2. Alokasi pintu bongkar tidak menimbulkan antrean panjang.
  1. Barang diturunkan dari kendaraan ke area staging inbound.
  2. Barang dipisahkan secara visual berdasarkan kelompok operasional.
  3. Area staging dijaga agar tetap rapi untuk mencegah campur muatan.

Fokus kontrol:

  1. Keamanan bongkar muat.
  2. Ketertiban layout staging.
  1. Petugas memproses unit barang menggunakan perangkat mobile WMS.
  2. Metode verifikasi disesuaikan dengan jenis skenario receiving.
  3. Hasil verifikasi dicatat untuk keputusan proses berikutnya.

Fokus kontrol:

  1. Akurasi kuantitas fisik.
  2. Kesesuaian barang terhadap dokumen acuan.
  1. Setiap unit terverifikasi diberi identitas LPN yang unik.
  2. Label dicetak dan ditempel pada unit fisik.
  3. Unit tanpa label tidak boleh lanjut ke tahap simpan.

Fokus kontrol:

  1. Keterbacaan label.
  2. Konsistensi penempelan label pada posisi standar.

Fase 5: Quality Control (Opsional, Sangat Direkomendasikan)

Section titled “Fase 5: Quality Control (Opsional, Sangat Direkomendasikan)”
  1. Unit yang ditemukan rusak atau meragukan diberi status terpisah.
  2. Barang bermasalah diarahkan ke area karantina operasional.
  3. Hanya unit layak yang boleh melanjutkan ke putaway normal.

Fokus kontrol:

  1. Pencegahan pencampuran stok baik dan stok bermasalah.
  2. Perlindungan kualitas layanan ke pelanggan.

Fase 6: System Update, Handover, dan Closing

Section titled “Fase 6: System Update, Handover, dan Closing”
  1. Proses receiving ditutup setelah seluruh unit tervalidasi.
  2. Unit hasil receiving diserahterimakan ke proses penyimpanan lanjutan.
  3. Pihak terkait menerima notifikasi bahwa penerimaan telah selesai.

Fokus kontrol:

  1. Tidak ada unit tertinggal dalam status transit internal.
  2. Kesiapan unit untuk masuk proses berikutnya tanpa rework.

Gunakan alur naratif berikut saat membawakan materi ke audiens campuran:

  1. Barang tiba di gerbang dan didaftarkan.
  2. Barang dibongkar ke staging secara terstruktur.
  3. Tim memverifikasi barang sesuai skenario penerimaan.
  4. Unit valid diberi label LPN.
  5. Unit bermasalah dipisahkan untuk kontrol kualitas.
  6. Unit yang lolos verifikasi diserahterimakan ke proses penyimpanan.
  7. Proses receiving ditutup dan terdokumentasi.

Pengecualian Umum dan Tindakan Operasional

Section titled “Pengecualian Umum dan Tindakan Operasional”

Tindakan:

  1. Lakukan penerimaan ad-hoc terkontrol.
  2. Prioritaskan penghitungan fisik dan pelabelan cepat.
  3. Lakukan verifikasi lanjutan sebelum barang diperlakukan sebagai stok siap pakai.

Tindakan:

  1. Tahan penyelesaian dokumen inbound terkait.
  2. Lakukan pengecekan ulang bersama petugas bongkar.
  3. Eskalasikan hasil selisih untuk keputusan operasional.

Tindakan:

  1. Tandai unit sebagai barang bermasalah.
  2. Pisahkan ke area karantina.
  3. Dokumentasikan temuan untuk tindak lanjut klaim atau evaluasi vendor.

Untuk evaluasi performa, gunakan indikator berikut pada level supervisor dan manajemen:

  1. Waktu siklus receiving dari gate in sampai closing.
  2. Tingkat akurasi penerimaan dibanding hasil verifikasi fisik.
  3. Persentase barang bermasalah terhadap total unit masuk.
  4. Tingkat kepatuhan proses pelabelan LPN.
  5. Tingkat ketepatan serah terima ke proses lanjutan.
  1. Mengelola registrasi kedatangan kendaraan.
  2. Menjaga ketertiban antrean kendaraan masuk.
  1. Menjalankan verifikasi unit barang sesuai skenario.
  2. Memastikan akurasi hasil penerimaan.
  1. Menentukan perlakuan unit bermasalah.
  2. Menjaga disiplin kepatuhan SOP harian.

Dengan desain receiving seperti ini, Siloora WMS membantu gudang menjalankan inbound secara lebih cepat, lebih tertib, dan lebih akurat. Dampaknya terlihat pada kualitas data awal stok, kesiapan proses lanjutan, dan ketepatan keputusan operasional harian.

Dokumen ini dapat dijadikan fondasi materi presentasi untuk alignment lintas fungsi, mulai dari tim lantai gudang hingga manajemen operasional.